GoBlog.co.id, 18 Juni 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan signifikan sebesar 1,06 persen hingga 6.154 poin pada penutupan perdagangan sesi pertama, Kamis (18/6/2026). Penurunan ini dipicu oleh kombinasi tekanan dari volatilitas pasar global, penurunan harga minyak mentah, serta ketidakpastian terkait kebijakan moneter negara-negara maju. Analis memprediksi, pergerakan IHSG dalam sesi kedua akan sangat bergantung pada data ekonomi terkini dan respons investor terhadap dinamika politik domestik.
Penurunan IHSG ini terjadi di tengah kinerja negatif bursa global, terutama Asia dan Eropa. Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 1,8 persen, sementara FTSE 100 di Inggris melemah 0,7 persen. Volatilitas pasar didorong oleh kekhawatiran inflasi yang melonjak di negara-negara maju dan potensi kenaikan suku bunga yang lebih tinggi dari bank sentral global. Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent jatuh ke level USD 70 per barel, memberikan tekanan tambahan pada sektor energi di Indonesia.
Analyst Center for Economic and Financial Research (CERFIN), Rizky Pratama, mengatakan, tekanan pada IHSG akan terus berlanjut jika sentimen global tidak membaik. “Ketidakpastian kebijakan moneter AS dan risiko perang dagang Asia-Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang menghambat optimisme investor. Kami memperkirakan IHSG akan berkisar antara 6.000-6.300 poin hingga akhir pekan,” katanya.
Baca Juga
Di sisi lain, pemerintah Indonesia terus menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas perekonomian. Menteri Keuangan Fachmi Idris menyatakan bahwa pemerintah akan memprioritaskan langkah-langkah pro-pasar untuk mendukung pemulihan ekonomi. Namun, analis memprediksi intervensi pemerintah mungkin tidak cukup untuk menopang IHSG dalam jangka pendek, terutama jika tekanan global meningkat.
Investor ritel dan institusional saat ini menunggu data ekonomi kuartal kedua yang akan dirilis akhir minggu ini. Data tersebut, termasuk pertumbuhan PDB dan inflasi, akan menjadi penentu bagi pergerakan IHSG di sesi kedua. Selain itu, dinamika politik internal, seperti hasil survei elektabilitas partai politik menjelang pemilu 2028, juga dianggap berpotensi memengaruhi sentimen pasar.
Kesimpulan, pelemahan IHSG 1,06 persen pada sesi pertama Kamis ini mencerminkan kombinasi tantangan global dan domestik. Meski pemerintah berupaya menstabilkan pasar, sentimen investor tetap mengarah pada konservatif hingga ada sinyal positif dari pasar internasional. Investor diminta tetap waspada terhadap volatilitas yang berpotensi meningkat di sesi kedua.




